Kalau Anda berkenan untuk sejenak berhenti dari kesibukan
membuat tugas kuliah atau diskusi tentang mata kuliah, baik kalau kita menjadi
lebih kritis untuk mengamati kecenderungan perilaku kaum muda remaja dewasa ini
yang tentunya menarik untuk dipikirkan bersama.
Semakin pesatnya tren kapitalisme dan konglomerasi elite tertentu maka
pertumbuhan kwantitatif tempat-tempat hiburan dan pusat-pusat perbelanjaan
semakin berkembang bak jamur dimusim hujan. Fenomena tersebut secara langsung
ataupun tidak langsung mempengaruhi budaya dan pola hidup kaum muda remaja
sekarang. Pergeseran budaya mulai menjangkiti kaum muda remaja tanpa kompromi
dan eksodus besar-besaran tentang paradigma berpikir kaum muda remaja, dari
budaya timur menuju budaya barat. Anda dapat melihat kaum muda remaja hedonis
bersliweran dengan berbagai mode rambut dengan busana thank top atau junkies,
dan alat-alat digital lainnya. Iklim masyarakat sekarang jauh berbeda dengan
masyarakat tempo dulu. Namun, bila gejala ini kita telaah lebih lanjut bahwa
kaum muda remaja telah jatuh kedalam euforia budaya pop. Selanjutnya kaum muda
remaja yang seharusnya menjadi homo significans malahan jatuh kedalam
pendangkalan nilai hidup.
Tulisan ini hanya mengajak para pembaca untuk merenungi dampak globalisasi
tanpa harus terjerat ke dalam arus pendangkalan hidup post-modernisasi dan
bagaimana hal tersebut tidak menggerogoti nilai-nilai positif yang menjadi
warisan budaya kita.
Euforia Budaya Pop Remaja : Buah Globalisasi
Manusia harus berubah. Itulah hal yang mendasar yang perlu dipikirkan secara
bersama. Memang benar bahwasannya manusia dengan segala budaya dan akal budinya
harus dikembangkan seoptimal mungkin, karena akan semakin mengkokohkan
kedudukannya dimuka bumi sebagai God Creature yang sempurna dibandingkan dengan
ciptaan lainnya.
Kali ini, manusia beralih menuju rentang waktu yang kontradiksional dengan
fase-fase sebelumnya, yaitu fase globalisasi. Di satu sisi manusia memang
dituntut untuk berkembang menuju kearah yang lebih modern, baik aspek
teknologi, hukum, sosial/kesejahteraan sosial, politik, demokrasi, dan semua
sistem lainnya harus disempurnakan. Teknologi bidang informatika, kedokteran,
bioteknologi, dan transportasi mengalami perkembangan yang begitu dahsyat
mengatasi batas-batas ruang dan waktu.
Namun, tidak boleh dilupakan bahwa hasil perkembangan manusia bersifat relatif
dan ambivalen. Pengaruh negatif dari globalisasi adalah euforia budaya pop,
perdagangan bebas, marginalisasi kaum lemah, dan timbulnya gap relation antaara
si kaya dan si miskin. Hasil tersebut telah membentuk suatu budaya baru bagi
masyarakat, khususnya kaum muda remaja menjadi manusia yang terjebak dalam arus
budaya pop.
Penghayatan Hidup dikalanagan Remaja yang Semakin Mendangkal
Ilustrasi di awal tulisan ini hanyalah sekelumit deskrispsi yang membuktikan
eksistensi kecenderungan dalam diri manusia modern. Masih banyak contoh-contoh
lain sebagai hasil dari globalisasi. kaum muda remaja dewasa ini lebih suka
membaca komik atau main game daripada harus membaca buku-buku bermutu. Bacaan
dengan analisis mendalam dan novel-novel bermutu hanya menjadi bagian kecil
dari skala prioritas mereka, bahan-bahan bacaan seperti itu hanya tersentuh
jika terpaksa atau karena tuntutan akademis.
Anda dapat mengelak bahwa gejala-gejala ini merupakan bentuk adaptif dari
kemajuan zaman. Tapi, itu adalah rasionalisasi. Sebenarnya, kecenderungan
manusia sekarang bukan hanya sekedar masalah mengikuti perkembangan zaman
melainkan hal ini adalah masalah gengsi dan penghayatan hidup.
Bukti yang paling mengena adalah televisi, berbagai acara televisi semakin hari
semakin jauh dari idealisme jurnalistik, bahkan semakin melegalkan budaya
kekerasan, instanisasi, dan bentuk-bentuk kriminalitas. Sebagian
tayangan-tayangan tersebut hanya semakin mendangkalkan sifat afektif manusia.
Tayangan mengenai bencana alam, kemiskinan, perang, kelaparan, penemuan
teknologi, pembelajaran budaya, dan lain sebagainya telah membuat sisi afeksi
manusia tidak peka terhadap hal tersebut. Tidak ada proses batin dan
intelektual lebih lanjut. Penghayatan nilai-nilai luhur semakin tereduksi.
Eksistensi kaum muda remaja hanya ditempatkan pada pengakuan-pengakuan
sementara, misalnya seorang remaja dianggap eksistensinya ada jika remaja
tersebut masuk menjadi anggota geng motor, menggunakan baju-baju bermerk,
menggunakan blueberry, dugem, clubbing, melakukan freesex, ngedrugs, dan
lain sebagainya. Eksistensi kaum muda remaja hanya dihargai sebatas kepemilikan
dan status semata. Jika pendangkalan ini terus dipelihara dan dibudidayakan
dikalangan remaja kita, makna dan penghargaan terhadap insan manusia semakin
jauh. Hasilnya adalah menghilangnya penghargaan terhadap manusia lainnya,
misalnya: perang, pemerkosaan, komersialisasi organ tubuh, trafficking,
tawuran, dll. Contoh-contoh ini menjadi indikasi kehancuran sebuah kebudayaan
yang dimulai dari pergeseran nilai-nilai budaya di kalangan kaum muda remaja
kita. Dampak yang sangat menyedihkan dan mengkhawatirkan!
Memang harus kita akui ada diantara (oknum) generasi muda saat ini yang mudah
emosi dan lebih mengutamakan otot daripada akal pikiran. Kita lihat saja,
tawuran bukan lagi milik pelajar SMP dan SLTA tapi sudah merambah dunia kampus
(masih ingat kematian seorang mahasiswa di Universitas Jambi, awal tahun 2002
akibat perkelahian didalam kampus). Atau kita jarang (atau belum pernah)
melihat demonstrasi yang santun dan tidak menggangu orang lain baik kata-kata
yang diucapkan dan prilaku yang ditampilkan. Kita juga kadang-kadang jadi ragu
apakah demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni untuk kepentingan rakyat atau
pesanan sang pejabat.
Selain itu, berita-berita mengenai tindakan pencurian kendaraan baik roda dua
maupun empat, penguna narkoba atau bahkan pengedar, pemerasan dan perampokan
yang hampir setiap hari mewarnai tiap lini kehidupan di negara kita tercinta
ini banyak dilakukan oleh oknum golongan terpelajar. Semua ini jadi tanda tanya
besar kenapa hal tersebut terjadi?. Apakah dunia Pendidikan (dari SD sampai PT)
kita sudah tidak lagi mengajarkan tata susila dan prinsip saling sayang -
menyayangi kepada siswa atau mahasiswanya atau kurikulum pendidikan tinggi
sudah melupakan prinsip kerukunan antar sesama? Atau inikah hasil dari sistim
pendidikan kita selama ini ? atau Inikah akibat perilaku para pejabat kita?
Dilain pihak, tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme yang membuat bangsa ini
morat-marit dengan segala permasalahanya baik dalam bidang keamanan, politik, ekonomi,
sosial budaya serta pendidikan banyak dilakukan oleh orang orang yang mempunyai
latar belakang pendidikan tinggi baik dalam negri maupun luar negri. Dan
parahnya, era reformasi bukannya berkurang tapi malah tambah jadi. Sehingga
kapan krisis multidimensi inI akan berakhir belum ada tanda-tandanya.
PERLU PENDIDIKAN YANG BERMORAL
Kita dan saya sebagai Generasi Muda sangat perihatin dengan keadaan generasi
penerus atau calon generasi penerus Bangsa Indonesai saat ini, yang tinggal,
hidup dan dibesarkan di dalam bumi republik ini. Untuk menyiapkan generasi
penerus yang bermoral, beretika, sopan, santun, beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa perlu dilakukan hal-hal yang memungkin hal itu terjadi
walaupun memakan waktu lama.
Pertama, melalui pendidikan nasional yang bermoral (saya tidak ingin mengatakan
bahwa pendidikan kita saat ini tidak bermoral, namun kenyataanya demikian di
masyarakat). Lalu apa hubungannya Pendidikan Nasional dan Nasib Generasi
Penerus? Hubungannya sangat erat. Pendidikan pada hakikatnya adalah alat untuk
menyiapkan sumber daya manusia yang bermoral dan berkualitas unggul. Dan sumber
daya manusia tersebut merupakan refleksi nyata dari apa yang telah pendidikan
sumbangankan untuk kemajuan atau kemunduran suatu bangsa. Apa yang telah
terjadi pada Bangsa Indonesia saat ini adalah sebagai sumbangan pendidikan
nasional kita selama ini.
Pendidikan nasional selama ini telah mengeyampingkan banyak hal. Seharusnya
pendidikan nasional kita mampu menciptakan pribadi (generasi penerus) yang
bermoral, mandiri, matang dan dewasa, jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti
luhur, berperilaku santun, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan
kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok.Tapi kenyataanya bisa kita lihat
saat ini. Pejabat yang melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme baik di
legislative, ekskutif dan yudikatif semuanya orang-orang yang berpendidikan
bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka bergelar dari S1 sampai Prof. Dr. Contoh
lainnya, dalam bidang politik lebih parah lagi, ada partai kembar , anggota
dewan terlibat narkoba, bertengkar ketika sidang, gontok-gontokan dalam tubuh
partai karena memperebutkan posisi tertentu (Bagaimana mau memperjuangkan
aspirasi rakyat kalau dalam diri partai saja belum kompak).
Dan masih ingatkah ketika terjadi jual beli kata-kata umpatan
("bangsat") dalam sidang kasus Bulog yang dilakukan oleh orang-orang
yang mengerti hukum dan berpendidikan tinggi. Apakah orang-orang seperti ini
yang kita andalkan untuk membawa bangsa ini kedepan? Apakah mereka tidak sadar
tindak-tanduk mereka akan ditiru oleh generasi muda saat ini dimasa yang akan
datang? Dalam dunia pendidikan sendiri terjadi penyimpangan-penyimpang yang
sangat parah seperti penjualan gelar akademik dari S1 sampai S3 bahkan
professor (dan anehnya pelakunya adalah orang yang mengerti tentang
pendidikan), kelas jauh, guru/dosen yang curang dengan sering datang terlambat
untuk mengajar, mengubah nilai supaya bisa masuk sekolah favorit, menjiplak
skripsi atau tesis, nyuap untuk jadi pegawai negeri atau nyuap untuk naik
pangkat sehingga ada kenaikan pangkat ala Naga Bonar.
Di pendidikan tingkat menengah sampai dasar, sama parahnya, setiap awal tahun
ajaran baru. Para orang tua murid sibuk mengurusi NEM anaknya (untungsnya, NEM
sudah tidak dipakai lagi, entah apalagi cara mereka), kalau perlu didongkrak
supaya bisa masuk sekolah-sekolah favorit. Kalaupun NEM anaknya rendah, cara
yang paling praktis adalah mencari lobby untuk memasukan anaknya ke sekolah
yang diinginkan, kalau perlu nyuap. Perilaku para orang tua seperti ini
(khususnya kalangan berduit) secara tidak langsung sudah mengajari anak-anak
mereka bagaimana melakukan kecurangan dan penipuan. (makanya tidak aneh
sekarang ini banyak oknum pejabat jadi penipu dan pembohong rakyat). Dan banyak
lagi yang tidak perlu saya sebutkan satu per satu dalam tulisan ini.
Kembali ke pendidikan nasional yang bermoral (yang saya maksud adalah
pendidikan yang bisa mencetak generasi muda dari SD sampai PT yang bermoral.
Dimana proses pendidikan harus bisa membawa peserta didik kearah kedewasaan,
kemandirian dan bertanggung jawab, tahu malu, tidak plin-plan, jujur, santun,
berahklak mulia, berbudi pekerti luhur sehingga mereka tidak lagi bergantung
kepada keluarga, masyarakat atau bangsa setelah menyelesaikan
pendidikannya.Tetapi sebaliknya, mereka bisa membangun bangsa ini dengan
kekayaan yang kita miliki dan dihargai didunia internasional. Kalau perlu
bangsa ini tidak lagi mengandalkan utang untuk pembangunan. Sehingga negara
lain tidak seenaknya mendikte Bangsa ini dalam berbagai bidang kehidupan.
Dengan kata lain, proses transformasi ilmu pengetahuan kepada peserta didik
harus dilakukan dengan gaya dan cara yang bermoral pula. Dimana ketika
berlangsung proses tranformasi ilmu pengetahuan di SD sampai PT sang pendidik
harus memiliki moralitas yang bisa dijadikan panutan oleh peserta didik.
Seorang pendidik harus jujur, bertakwa, berahklak mulia, tidak curang, tidak
memaksakan kehendak, berperilaku santun, displin, tidak arogan, ada rasa malu,
tidak plin plan, berlaku adil dan ramah di dalam kelas, keluarga dan
masyarakat. Kalau pendidik mulai dari guru SD sampai PT memiliki sifat-sifat
seperti diatas. Negara kita belum tentu morat-marit seperti ini.
Kedua, Perubahan dalam pendidikan nasional jangan hanya terpaku pada perubahan
kurikulum, peningkatan anggaran pendidikan, perbaikan fasilitas. Misalkan
kurikulum sudah dirubah, anggaran pendidikan sudah ditingkatkan dan fasilitas
sudah dilengkapi dan gaji guru/dosen sudah dinaikkan, Namun kalau pendidik
(guru atau dosen) dan birokrat pendidikan serta para pembuat kebijakan belum
memiliki sifat-sifat seperti diatas, rasanya perubahan-perubahan tersebut akan
sia-sia. Implementasi di lapangan akan jauh dari yang diharapkan Dan akibat
yang ditimbulkan oleh proses pendidikan pada generasi muda akan sama seperti
sekarang ini. Dalam hal ini saya tidak berpretensi menyudutkan guru atau dosen
dan birokrat pendidikan serta pembuat kebijakan sebagai penyebab terpuruknya
proses pendidikan di Indonesia saat ini. Tapi adanya oknum yang berperilaku
menyimpang dan tidak bermoral harus segera mengubah diri sedini mungkin kalau
menginginkan generasi seperti diatas.
Selain itu, anggaran pendidikan yang tinggi belum tentu akan mengubah dengan
cepat kondisi pendidikan kita saat ini. Malah anggaran yang tinggi akan
menimbulkan KKN yang lebih lagi jika tidak ada kontrol yang ketat dan moralitas
yang tinggi dari penguna anggaran tersebut. Dengan anggaran sekitar 6% saja KKN
sudah merajalela, apalagi 20-25%.
Ketiga, Berlaku adil dan Hilangkan perbedaan. Ketika saya masih di SD dulu, ada
beberapa guru saya sangat sering memanggil teman saya maju kedepan untuk
mencatat dipapan tulis atau menjawab pertanyaan karena dia pintar dan anak
orang kaya. Hal ini juga berlanjut sampai saya kuliah di perguruan tinggi. Yang
saya rasakan adalah sedih, rendah diri, iri dan putus asa sehingga timbul
pertanyaan mengapa sang guru tidak memangil saya atau yang lain. Apakah hanya
yang pintar atau anak orang kaya saja yang pantas mendapat perlakuan seperti
itu.? Apakah pendidikan hanya untuk orang yang pintar dan kaya?Dan mengapa saya
tidak jadi orang pintar dan kaya seperti teman saya? Bisakah saya jadi orang
pintar dengan cara yang demikian?
Dengan contoh yang saya rasakan ini (dan banyak contoh lain yang sebenarnya
ingin saya ungkapkan), saya ingin memberikan gambaran bahwa pendidikan nasional
kita telah berlaku tidak adil dan membuat perbedaan diantara peserta didik.
Sehingga generasi muda kita secara tidak langsung sudah diajari bagaimana
berlaku tidak adil dan membuat perbedaan. Jadi, pembukaan kelas unggulan atau
kelas akselerasi hanya akan membuat kesenjangan sosial diantara peserta didik,
orang tua dan masyarakat. Yang masuk di kelas unggulan belum tentu memang
unggul, tetapi ada juga yang diunggul-unggulkan karena KKN. Yang tidak masuk
kelas unggulan belum tentu karena tidak unggul otaknya tapi karena dananya
tidak unggul. Begitu juga kelas akselerasi, yang sibuk bukan peserta didik,
tapi para orang tua mereka mencari jalan bagaimana supaya anaknya bisa masuk
kelas tersebut.
Kalau mau membuat perbedaan, buatlah perbedaan yang bisa menumbuhkan peserta
didik yang mandiri, bermoral. dewasa dan bertanggungjawab. Jangan hanya
mengadopsi sistem bangsa lain yang belum tentu cocok dengan karakter bangsa
kita. Karena itu, pembukaan kelas unggulan dan akselerasi perlu ditinjau
kembali kalau perlu hilangkan saja.
Contoh lain lagi , seorang dosen marah-marah karena beberapa mahasiswa tidak
membawa kamus. Padahal Dia sendiri tidak pernah membawa kamus ke kelas. Dan seorang
siswa yang pernah belajar dengan saya datang dengan menangis memberitahu bahwa
nilai Bahasa Inggrisnya 6 yang seharusnya 9. Karena dia sering protes pada guru
ketika belajar dan tidak ikut les dirumah guru tersebut. Inikan! contoh paling
sederhana bahwa pendidikan nasional kita belum mengajarkan bagaimana berlaku
adil dan menghilangkan Perbedaan.
PEJABAT HARUS SEGERA BERBENAH DIRI DAN MENGUBAH PERILAKU
Kalau kita menginginkan generasi penerus yang bermoral, jujur, berakhlak mulia,
berbudi pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan
serta mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok. Maka semua
pejabat yang memegang jabatan baik legislative, ekskutif maupun yudikatif harus
berbenah diri dan memberi contoh dulu bagaimana jujur, berakhlak mulia, berbudi
pekerti luhur, berperilaku santun, bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta
mementingkan kepentingan bangsa bukan pribadi atau kelompok kepada generasi
muda mulai saat ini.
Karena mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan dan tidak sedikit
pejabat yang bergelar Prof. Dr. (bukan gelar yang dibeli obral). Mereka harus
membuktikan bahwa mereka adalah hasil dari sistim pendidikan nasional selama
ini. Jadi kalau mereka terbukti salah melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme,
jangan cari alasan untuk menghindar. Tunjukan bahwa mereka orang yang
berpendidikan , bermoral dan taat hukum. Jangan bohong dan curang. Apabila
tetap mereka lakukan, sama saja secara tidak langsung mereka (pejabat) sudah
memberikan contoh kepada generasi penerus bahwa pendidikan tinggi bukan jaminan
orang untuk jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun,
bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa
bukan pribadi atau kelompok. Jadi jangan salahkan jika generasi mudah saat ini
meniru apa yang mereka (pejabat) telah lakukan . Karena mereka telah merasakan,
melihat dan mengalami yang telah pejabat lakukan terhadap bangsa ini.
Selanjutnya, semua pejabat di negara ini mulai saat ini harus bertanggungjawab
dan konsisten dengan ucapannya kepada rakyat. Karena rakyat menaruh kepercayaan
terhadap mereka mau dibawah kemana negara ini kedepan. Namun perilaku pejabat
kita, lain dulu lain sekarang. Sebelum diangkat jadi pejabat mereka umbar janji
kepada rakyat, nanti begini, nanti begitu. Pokoknya semuanya mendukung
kepentingan rakyat. Dan setelah diangkat, lain lagi perbuatannya. Contoh
sederhana, kita sering melihat di TV ruangan rapat anggota DPR (DPRD) banyak
yang kosong atau ada yang tidur-tiduran. Sedih juga melihatnya. Padahal mereka
sudah digaji, bagaimana mau memperjuangkan kepentingan rakyat. Kalau ke kantor
hanya untuk tidur atau tidak datang sama sekali. Atau ada pengumuman di Koran,
radio atau TV tidak ada kenaikan BBM, TDL atau tariff air minum. Tapi beberapa
minggu atau bulan berikutnya, tiba-tiba naik dengan alasan tertentu. Jadi
jangan salahkan mahasiswa atau rakyat demonstrasi dengan mengeluarkan kata-kata
atau perilaku yang kurang etis terhadap pejabat. Karena pejabat itu sendiri
tidak konsisten. Padahal pejabat tersebut seorang yang bergelar S2 atau bahkan
Prof. Dr. Inikah orang-orang yang dihasilkan oleh pendidikan nasional kita
selama ini?
Harapan
Dengan demikian, apabila kita ingin mencetak generasi penerus yang mandiri,
bermoral, dewasa dan bertanggung jawab. Konsekwensinya, Semua yang terlibat
dalam dunia pendidikan Indonesia harus mampu memberikan suri tauladan yang bisa
jadi panutan generasi muda. jangan hanya menuntut generasi muda untuk
berperilaku jujur, berakhlak mulia, berbudi pekerti luhur, berprilaku santun,
bermoral, tahu malu dan tidak arogan serta mementingkan kepentingan bangsa
bukan pribadi atau kelompok.
Tapi para pemimpin bangsa ini tidak melakukannya. Maka harapan tinggal harapan
saja. Karena itu, mulai sekarang, semua pejabat mulai dari level tertinggi
hingga terendah di legislative, eksekutif dan yudikatif harus segera
menghentikan segala bentuk petualangan mereka yang hanya ingin mengejar
kepentingan pribadi atau kelompok sesaat dengan mengorbankan kepentingan negara.
Sehingga generasi muda Indonesia memiliki panutan-panutan yang bisa diandalkan
untuk membangun bangsa ini kedepan.
Pada masa remaja, terdapat banyak
hal baru yang terjadi, dan biasanya lebih bersifat menggairahkan, karena hal
baru yang mereka alami merupakan tanda-tanda menuju kedewasaan. Dari masalah
yang timbul akibat pergaulan, keingin tahuan tentang asmara dan seks, hingga
masalah-masalah yang bergesekan dengan hukum dan tatanan sosial yang berlaku di
sekitar remaja.
Hal-hal yang terakhir ini biasanya terjadi karena banyak faktor, tetapi
berdasarkan penelitian, jumlah yang terbesar adalah karena
"tingginya" rasa solidaritas antar teman, pengakuan kelompok, atau
ajang penunjukkan identitas diri. Masalah akan timbul pada saat remaja salah
memilih arah dalam berkelompok.
Banyak ahli psikologi yang menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa yang
penuh masalah, penuh gejolak, penuh risiko (secara psikologis), over energi,
dan lain sebagainya, yang disebabkan oleh aktifnya hormon-hormon tertentu.
Tetapi statement yang timbul akibat pernyataan yang stereotype dengan
pernyataan diatas, membuat remaja pun merasa bahwa apa yang terjadi, apa yang
mereka lakukan adalah suatu hal yang biasa dan wajar.
Minat untuk berkelompok menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang remaja
alami. Yang dimaksud di sini bukan sekadar kelompok biasa, melainkan sebuah
kelompok yang memiliki kekhasan orientasi, nilai-nilai, norma, dan kesepakatan
yang secara khusus hanya berlaku dalam kelompok tersebut. Atau yang biasa
disebut geng. Biasanya kelompok semacam ini memiliki usia sebaya atau bisa juga
disebut peer group.
Demi kawan yang menjadi anggota kelompok ini, remaja bisa melakukan dan
mengorbankan apa pun, dengan satu tujuan, Solidaritas. Geng, menjadi suatu
wadah yang luar biasa apabila bisa mengarah terhadap hal yang positif. Tetapi
terkadang solidaritas menjadi hal yang bersifat semu, buta dan destruktif, yang
pada akhirnya merusak arti dari solidaritas itu sendiri.
Demi alasan solidaritas, sebuah geng sering kali memberikan tantangan atau
tekanan-tekanan kepada anggota kelompoknya (peer pressure) yang terkadang
berlawanan dengan hukum atau tatanan sosial yang ada. Tekanan itu bisa saja
berupa paksaan untuk menggunakan narkoba, mencium pacar, melakukan hubungan
seks, melakukan penodongan, bolos sekolah, tawuran, merokok, corat-coret
tembok, dan masih banyak lagi.
Secara individual, remaja sering merasa tidak nyaman dalam melakukan apa yang
dituntutkan pada dirinya. Namun, karena besarnya tekanan atau besarnya
keinginan untuk diakui, ketidak berdayaan untuk meninggalkan kelompok, dan
ketidak mampuan untuk mengatakan "tidak", membuat segala
tuntutan yang diberikan kelompok secara terpaksa dilakukan. Lama kelamaan
prilaku ini menjadi kebiasaan, dan melekat sebagai suatu karakter yang
diwujudkan dalam berbagai prilaku negatif.
Kelompok atau teman sebaya memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menentukan
arah hidup remaja. Jika remaja berada dalam lingkungan pergaulan yang penuh
dengan "energi negatif" seperti yang terurai di atas, segala
bentuk sikap, perilaku, dan tujuan hidup remaja menjadi negatif. Sebaliknya,
jika remaja berada dalam lingkungan pergaulan yang selalu menyebarkan
"energi positif", yaitu sebuah kelompok yang selalu memberikan
motivasi, dukungan, dan peluang untuk mengaktualisasikan diri secara positif
kepada semua anggotanya, remaja juga akan memiliki sikap yang positif.
Prinsipnya, perilaku kelompok itu bersifat menular.
Motivasi dalam kelompok (peer motivation) adalah salah satu contoh energi yang
memiliki kekuatan luar biasa, yang cenderung melatarbelakangi apa pun yang
remaja lakukan. Dalam konteks motivasi yang positif, seandainya ini menjadi
sebuah budaya dalam geng, barangkali tidak akan ada lagi kata-kata "kenakalan
remaja" yang dialamatkan kepada remaja. Lembaga pemasyarakatan juga
tidak akan lagi dipenuhi oleh penghuni berusia produktif, dan di negeri
tercinta ini akan semakin banyak orang sukses berusia muda. Remaja juga tidak
perlu lagi merasakan peer pressure, yang bisa membuat mereka stres.
Secara teori diatas, remaja akan menjadi pribadi yang diinginkan masyarakat.
Tetapi tentu saja hal ini tidak dapat hanya dibebankan pada kelompok ataupun
geng yang dimiliki remaja. Karena remaja merupakan individu yang bebas dan
masing-masing tentu memiliki keunikan karakter bawaan dari keluarga. Banyak
faktor yang juga dapat memicu hal buruk terjadi pada remaja.
Seperti yang telah diuraikan diatas, kelompok remaja merupakan sekelompok
remaja dengan nilai, keinginan dan nasib yang sama. Contoh, banyak sorotan yang
dilakukan publik terhadap kelompok remaja yang merupakan kumpulan anak dari
keluarga broken home. Kekerasan yang telah mereka alami sejak masa kecil,
trauma mendalam dari perpecahan keluarga, akan kembali menjadi pencetus
kenakalan dan kebrutalan remaja.
Tetapi, masa remaja memang merupakan masa dimana seseorang belajar
bersosialisasi dengan sebayanya secara lebih mendalam dan dengan itu pula
mereka mendapatkan jati diri dari apa yang mereka inginkan.
Hingga, terlepas dari itu semua, remaja merupakan masa yang indah dalam hidup
manusia, dan dalam masa yang akan datang, akan menjadikan masa remaja merupakan
tempat untuk memacu landasan dalam menggapai kedewasaan.
KONFERENSI internasional amat penting tahun
1992, suatu
konferensi tentang "ekologi dan pembangunan" yang disponsori
oleh PBB (UNCED/United Nations Conferece on Environment and
Development), direncanakan berlangsung pada 3 Juni tahun ini di Rio De Janeiro,
Brazil. Konferensi ini diramalkan bakal diwarnai
oleh kemelut kepentingan Utara-Selatan. Setelah empat kali
pertemuan persiapan, tampaknya jurang yang memisahkan berbagai kepentingan
masih menganga. Bahkan yang pesimis melansir, bahwa jurang itu semakin dalam.
Kedua pihak mengambil sikap konfrontatif, sehingga mengingatkan kita pada
ungkapan sinis Churchill tahun '20- an dulu: "Keberhasilan terbesar
konferensi perlucutan senjata adalah, bila ia berakhir, tanpa melahirkan perang
baru." Padahal dua dekade setelah Konferensi Stockholm yang melahirkan
kesepakatan perlindungan lingkungan hidup sebagai kewajiban politis setiap
negara, konferensi Rio nanti diharapkan mampu menjadikan pelestarian alam
sebagai pedoman internasional. Intaian berbagai bahaya akibat kerusakan
lingkungan bagi planet bumi memang telah
memaksa umat manusia untuk tidak saja berpikir global, tetapi juga bertindak
global. Itulah yang diharapkan, terutama, oleh negara-negara kaya di belahan
Utara dunia dari konferensi Rio, meskipun hal ini tidak selalu sejalan dengan
apa yang menjadi permasalahan utama negara- negara Selatan yang miskin. Ada
kecemasan, bahwa konferensi di Rio itu nanti adalah "rantai" terbaru
negara-negara kaya untuk memasung pihak Selatan. Bisa dimengerti bila Selatan
lebih tertarik mengubah motto konferensi menjadi "ekologi atau
pembangunan" ketimbang "ekologi dan pembangunan". Rio de Janeiro
tampaknya bakal menjadi ajang konfrontasi kepentingan Utara dan Selatan,
meskipun tak ada pihak yang bersedia menjadi "kambing hitam"
kegagalan konferensi. Sehingga, Rio diramal akan membuahkan berbagai komunike
kompromistik, yang bisa ditafsirkan sesuai dengan kepentingan serta sama sekali
tak mengikat.
***
PERKEMBANGAN ini mulai tampak dua tahun lalu. Sejak itu, bila
Utara berbicara tentang lingkungan hidup, maka pokok
pembicaraannya bertumpu pada perlindungan iklim. Tetapi, ini berarti pembatasan
bagi Selatan, misalnya pembatasan penebangan hutan hujan tropis yang menjadi
salah satu sumber devisa. Sementara itu Selatan menginginkan pembicaraan
difokuskan pada teman pembangunan. Padahal bagi Utara, istilah ini telah
merosot popularitasnya, berbarengan dengan kegagalan tiga dasawarsa
pembangunan. Negara-negara berkembang (Selatan) secara terbuka menuntut, agar
Utara yang kaya menanggung biaya pelestarian lingkungan di Selatan, tanpa
syarat. Tetapi, cash for green seperti yang dituntut Selatan ini,
ditolak oleh Utara dengan mengajukan bukti kegagalan bantuan keuangan selama
ini. Sebaliknya, sikap Utara ini tidak bisa dimengerti Selatan, mengingat
pertama, 80 persen pencemaran atmosfer adalah karena ulah pihak Utara. Dan
kedua, Selatan tidak bakal menyetujui kesepakatan perlindungan ekologi, bila
hal tersebut membuatnya semakin melarat dan terbelakang. Karena, demi menunjang
proses industrialisasi, Selatan mau tak mau harus meningkatkan pemakaian bahan
bakar (unrenewable energy), yang berarti peningkatan produksi gas CO2. Artinya,
bila target konsentrasi gas ini di atmosfer hingga tahun 2000 tidak bertambah,
Utara-lah yang harus menurunkan kadar produksinya, dengan mengurangi penggunaan
energi. Toh konsentrasi praktisnya, yang bermuara pada pengurangan konsentrasi
gas CO2 di atmosfer secara bertahap sebesar dua pertiga kadar saat ini, bakal
tidak disetujui oleh AS sebagai negara pemakai
energi terbesar, yang dalam hal ini berkoalisi dengan Arab Saudi,
negara Selatan yang berkepentingan menjual minyak dalam kapasitas besar.
Mengamati polarisasi kepentingan itu, bahkan mereka yang optimis sekalipun agak
ragu, bahwa konferensi Rio akan menghasilkan kesepakatan yang berfundamen kuat.
Meskipun, secara ekologis, permasalahan telah semakin mendesak. Tetapi, secara
politis konferensi Rio rupayanya belum cukup matang untuk membuahkan
kesepakatan mengenai pelestarian lingkungan global yang mengikat semua pihak.
***
PADA prinsipnya, pertentangan Utara-Selatan tersebut berkisar
pada persoalan distribusi kue pembangunan global. Setiap peningkatan
pembangunan di Selatan berarti peningkatan penggunaan energi, sementara di
Utara, kesediaan untuk mengurangi laju pertumbuhan pembangunan belum terlihat.
Distribusi memang erat kaitannya dengan egoisme pihak Utara. Tapi, bukan hanya
itu, karena cukup banyak kebijakan pelestarian lingkungan hidup negara-negara
berkembang
yang bersifat tambal sulam. Teori seringkali jauh berbeda dari
praktis. Sangat sedikit alasan untuk optimis, bahwa hutan hujan
tropis di Brasil misalnya, bakal lestari. Karena, UU Landreform
negeri samba ini lebih bersifat pajangan ketimbang diupayakan
pelaksanaannya (Die Zeit, 2-3 Januari 1992, hal. 7). Ekologi memang erat
kaitannya dengan ekonomi. Meskipun lugas
benar, pernyataan ini secara politis masih merupakan masalah.
Pertanyaannya kini, apakah polarisasi kepentingan Utara-Selatan itu mampu membuahkan
kesepakatan minimal bagi saling pengertian tentang distribusi hak penggunaan
ekologi dan keuntungan ekonomi? Di belakang layar, negosiasi tentang hal
tersebut sedang giat dilakukan. Secara garis besar ada dua kemungkinan
kesepakatan. Di satu pihak, Utara mengakui tanggung jawabnya bagi -- dampak
global -- pembangunan di Selatan. Karena itu, secara sukarela Utara meredusir
penggunaan energi dan bahan baku serta "membantu" pembiayaan
pembangunan di Selatan, dengan mensyaratkan pelestarian alam sebagai tujuan
pembangunan yang sama pentingnya denganperbaikan sosial- ekonomi. Di pihak
lain, Selatan mengakui, bahwa di samping haknya untuk melakukan pembangunan,
ada pula tanggung jawab globalnya berupa
upaya reformasi model pembangunan, sehingga ramah lingkungan.
Dengan begitu, semua pihak akan puas. Utara dengan halus akan
mengatakan, bahwa dengan kesepakatan tersebut, Selatan tidak lagi menuntut
"tatanan ekonomi global" baru. Dan Selatan, dengan suara yang juga
tidak nyaring, akan mengingatkan Utara, bahwa "kejanggalan" ekonomi
global, seperti yang dituntut Selatan dalam Putaran Uruguay/GATT, agar
dihilangkan. Bagi Utara, kesepakatan itu dinilai berhasil mengikat "Dunia
Ketiga" dalam sistem perdagangan dan moneter ekonomi dunia yang ada. Dan
Selatan yang miskin akan puas, bahwa tuntutan dan kebutuhannya terpenuhi.
Tetapi, apakah kesepakatan demikian berdampak positif bagi ekologi dan ekonomi,
dan apakah tuntutan reformasi model pembangunan yang terkandung dalam
kesepakatan itu akan dilaksanakan, hanya sejarahlah yang akan mencatatnya
kelak. Orang boleh ragu, karena kesepakatan itu bersifat sukarela. Cina dan
India misalnya, dengan lantang mengatakan tidak akan mau "diikat"
kewajiban sekecil apa pun.
dan di Utara, jepang sibuk kampanye, bahwa jalan industrialisasi yang
ditempuhnya -- yang memang harus diakui relatif ramah terhadap lingkungan dalam
negeri Jepang -- adalah sebagai model terbaik, tanpa menghitung biaya ekologi
bagi lingkungan hidup global, akibat besarnya penggunaan energi dan bahan baku.
*** KONFERENSI raksasa di Rio de Janeiro itu akan
berlangsung
selama 5 minggu, dan sejak awal Maret lalu persiapan terakhir
menyongsong konferensi Rio dilakukan di New York. Cukup waktu
untuk mempersiapkan rumusan komunike yang menyenangkan semua pihak. Tetapi,
rasanya terlalu singkat untuk merumuskan
blueprint berupa reformasi model pembangunan berwawasan lingkungan, sebagai
bukti tentang itikad umat manusia untuk membanting stir dari model pembangunan
yang memperbudak alam. Yang optimis mengharapkan sebuah earth charta hasil
Konferensi Rio berupa rumusan hak dan kewajiban manusia untuk melestarikan
"masa depan bersama". Apalagi bila dalam konferensi ini, negara-
negara industri kaya menyetujui ide untuk melakukan restrukturisasi sistem
ekonominya, ungkap Michael Oppenheimer, pakar ekologi dari Environmental
Defense Funds. Dan ia optimis, karena "ada tanda- tanda, bahwa pejabat
tinggi negara industri -- dan yang menggembirakan juga Bush Administration
pasca John Sanunu -- mulai berpikir ekologis."
Indonesia yang menyandang predikat sebagai negara Selatan dan
produsen minyak serta kaya dengan hutan hujan tropis, dapat berperan penting
dalam konferensi ini.